Mamasa, Sisi Lain Sulawesi Selatan

Posted by admin | August 15, 2011 4

Sulawesi Selatan memang akrab dengan daerah-daerah terkenal seperti Bugis, Makasar serta Tana Toraja yang ada di Rantepao. Namun ternyata masih ada lagi yang menjadi kekayaan nusantara di Sulawesi Selatan dan tersimpan di Mamasa, sebuah kota kecil yang diapit pegunungan, hutan, serta sungai.

Banyak orang yang menganggap bahwa kebudayaan di Mamasa merupakan bagian dari adat Toraja. Nyatanya, Mamasa memiliki kebudayaan tersendiri yang memang masih memiliki ikatan kekerabatan dengan adat Toraja. Namun bukan Toraja pada umumnya. Mamasa terkenal dengan pemandangan alam yang masih asri seakan tak pernah tersentuh. Oleh karena itu, Mamasa menjadi surga bagi mereka yang gemar kegiatan outdoor seperti treking, hiking, rafting atau mountain biking.

Menuju ke Mamasa bukanlah hal yang mudah, sebuah konsekuensi dari alam yang hijau dan asri. Dari Makasar Anda harus menuju Pinrang lalu terus menuju Polewali dengan waktu tempuh 5 jam. Rutenya pun cukup ekstrem dengan melewati bibir pantai dengan udara panas dan garang.

Setelah sampai di Polewali, Anda masih harus menempuh 4 jam perjalanan dengan kondisi jalan hancur dengan medan yang berat. Namun memasuki Mamasa, alam segar dan udara bersih serta pemandangan hijau langsung menyambut siapapun yang datang ke kota tersebut.

Selain pemandangan yang menakjubkan dan kondisi alam yang masih asri. Mamasa menyimpan cerita tersendiri dengan nilai mistik yang cukup kuat. Banyak orang Toraja mengakui bahwa masyarakat Mamasa memang memiliki nilai mistik yang kuat diantara ilmu ghaib yang dimiliki di etnis Toraja. Hal tersebut berawal dari kepercayaan budaya yang sangat terkenal yakni kemampuan membangkitkan orang yang sudah mati.

Menurut cerita setempat, ratusan tahun silam masyarakat Mamasa melakukan perantauan dengan memotong gunung dan hutan. Dalam perantauan biasanya bisa terjadi salah satu dari kelompok meninggal dunia karena beratnya medan yang ditempuh. Kondisi alam tersebut juga membuat kawanan lain yang masih hidup bisa membawa pulang kawannya yang sudah mati dengan membuat upacara pembangkitan mayat. Sehingga, mayat tersebut berjalan sendiri pulang kerumahnya melewati hutan dan jurang selama berhari-hari.

Setibanya di kampung halaman, biasanya masyarakat Mamasa lainnya membuat sebuah upacara tertentu untuk menyambut si mayat tadi. Setelah mayat didudukan dalam rumahnya selama beberapa hari, barulah mayat tadi dikuburkan seperti pada umumnya.

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita tersebut, masyarakat Mamasa hingga saat ini masih mempercayai kebudayaan tersebut. Tidak hanya itu, masyarakat lain dari etnis Toraja pun mengakui kebenaran adanya kebudayaan tersebut. Yang pasti salah satu kebudayaan pada masyarakat Mamasa ini merupakan kekayaan tradisi bumi nusantara.

photo: courtesy of http://blogger-mamasa.blogspot.com

  • DSC03825

4 Responses

Leave a Reply

latest posts from Wisata

Objek Wisata Pantai Parangkusumo
Objek Wisata CURUG seribu

Pelesir ke Objek Wisata Curug Seribu

Posted on Oct 7, 2014 in Slider | no responses

[PALINDO] PALAYANGAN (1)

Awas Ketagihan Arung Jeram Sungai Palayangan

Posted on Oct 6, 2014 in Slider | no responses

latest posts from Prestasi

Rintya dan Nailul
44073_large

Telur Busuk Membuat Nama Antonius Wisnu Harum

Posted on Sep 11, 2014 in Prestasi | no responses

P14-070912-001

March Boedihardjo jadi Mahasiswa di Usia 9 Tahun

Posted on Aug 19, 2014 in Prestasi | one comment